Dalam tiga dekade, sebuah cita-cita besar didesain, diwujudkan, untuk kemudian tenggelam.
———
Sebagai negara kepulauan, sarana perhubungan laut sangat penting. Namun sarana transportasi udara tak kalah pentingnya. Jarak Banda Aceh-Jayapura yang hampir 5.000 kilometer akan lebih mudah dijangkau bila menggunakan pesawat udara. Itu yang menjadi pertimbangan pemimpin negara kita ketika cita-cita mendirikan industri pesawat terbang digulirkan di awal 1960-an.
Cita-cita itu diawali dengan langkah kecil, dengan membentuk Komando Pelaksana Persiapan Industri Pesawat Terbang (Kopelalip). Marsekal Muda (Marsda) Nurtanio Pringgoadisuryo, seorang perwira TNI Angkatan Udara yang memendam minat tinggi pada konstruksi pesawat udara, ditunjuk memimpinnya.
Sayang, Marsda Nurtanio tidak sempat melihat hasil proyek yang dipimpinnya. Ia gugur dalam kecelakaan pesawat terbang yang ditumpanginya, 21 Maret 1966, dan namanya di kemudian hari disematkan pada lembaga baru pengganti Kopelalip yang dibentuk pemerintah, yaitu Lembaga Industri Pesawat Terbang Nurtanio (Lipnur).
Di bawah Lipnur, pesawat latih dan pesawat pertanian, yang diberi nama ”Gelatik” oleh Presiden Soekarno, sudah siap diproduksi. Gelatik dibangun dengan mengacu pada pesawat PZL-104 Wilga dari Polandia. Pesawat terbang untuk tujuan operasi pengendalian hama penyakit tanaman, dengan penyemprotan insektisiga dari udara, ini diharapkan menjadi batu loncatan bagi kemampuan merancang dan membangun pesawat terbang komersial dan pesawat militer.
Langkah industri pesawat terbang nasional baru terasa cepat ketika Bacharuddin Jusuf (B.J.) Habibie ditunjuk sebagai Direktur Utama PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (Nurtanio), nama baru Lipnur. B.J. Habibie memiliki latar belakang di bidang aeronautika yang kuat. Ia lulus dengan predikat cum laude dari Intitut Teknologi Achen, Jerman, dan memiliki sebuah penemuan khusus di bidang rotor.
Baca Lanjutannya…