Oleh: Ssiregar | November 14, 2009

Kisah yang akan terus berlanjut..

Dalam tiga dekade, sebuah cita-cita besar didesain, diwujudkan, untuk kemudian tenggelam.
———

Sebagai negara kepulauan, sarana perhubungan laut sangat penting. Namun sarana transportasi udara tak kalah pentingnya. Jarak Banda Aceh-Jayapura yang hampir 5.000 kilometer akan lebih mudah dijangkau bila menggunakan pesawat udara. Itu yang menjadi pertimbangan pemimpin negara kita ketika cita-cita mendirikan industri pesawat terbang digulirkan di awal 1960-an.

Cita-cita itu diawali dengan langkah kecil, dengan membentuk Komando Pelaksana Persiapan Industri Pesawat Terbang (Kopelalip). Marsekal Muda (Marsda) Nurtanio Pringgoadisuryo, seorang perwira TNI Angkatan Udara yang memendam minat tinggi pada konstruksi pesawat udara, ditunjuk memimpinnya.

Sayang, Marsda Nurtanio tidak sempat melihat hasil proyek yang dipimpinnya. Ia gugur dalam kecelakaan pesawat terbang yang ditumpanginya, 21 Maret 1966, dan namanya di kemudian hari disematkan pada lembaga baru pengganti Kopelalip yang dibentuk pemerintah, yaitu Lembaga Industri Pesawat Terbang Nurtanio (Lipnur).

Di bawah Lipnur, pesawat latih dan pesawat pertanian, yang diberi nama ”Gelatik” oleh Presiden Soekarno, sudah siap diproduksi. Gelatik dibangun dengan mengacu pada pesawat PZL-104 Wilga dari Polandia. Pesawat terbang untuk tujuan operasi pengendalian hama penyakit tanaman, dengan penyemprotan insektisiga dari udara, ini diharapkan menjadi batu loncatan bagi kemampuan merancang dan membangun pesawat terbang komersial dan pesawat militer.

Langkah industri pesawat terbang nasional baru terasa cepat ketika Bacharuddin Jusuf (B.J.) Habibie ditunjuk sebagai Direktur Utama PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (Nurtanio), nama baru Lipnur. B.J. Habibie memiliki latar belakang di bidang aeronautika yang kuat. Ia lulus dengan predikat cum laude dari Intitut Teknologi Achen, Jerman, dan memiliki sebuah penemuan khusus di bidang rotor.

 

Sebelum dipanggil pulang oleh Presiden Soeharto, Habibie bekerja dan berhasil meraih kedudukan tinggi di perusahaan aviotika Messerschmitt-Bolkow-Blohm

(MBB) di Jerman. Habibie bermukim di Jerman selama 22 tahun, dan pada usia 37 tahun kembali ke Tanah Air untuk memimpin program industri pesawat terbang di Bandung.

 

Habibie datang dengan konsep ”berawal dari akhir dan berakhir dari awal”. Konsep itu diterjemahkan ke dalam empat tahap. Tahap pertama, Nurtanio bekerja sama dengan pabrik yang sudah lebih dulu eksis dan memiliki pesawat terbang yang sudah teruji. Lewat pola lisensi macam ini, Nurtanio diproyeksikan bisa membuat pesawat terbang sendiri, sembari mendapat transfer pengetahuan.

Tak hanya satu, tapi Nurtanio menjalin kerja sama dengan dua pabrik pesawat terbang besar, yaitu Construcciones Aeronaticas SA (CASA) dari Spanyol dan MBB tadi. Di awal kiprahnya itu, Nurtanio memproduksi pesawat terbang NC-212 dan merakit helikopter NBO-105.

Setahun kemudian, Nurtanio menambah varian produk rakitannya, yaitu helikopter NSA-330 Puma dan NAS-332 Super Puma milik Aerospatiale (Prancis) dan helikopter Nbell-412 dari pabrik Bell Technologies Inc, Amerika Serikat. Seluruh komponen pesawat itu didatangkan dari pabrik pembuatnya.

Sesuai dengan tahap yang dikembangkan Habibie, dalam beberapa tahun berikutnya, Nurtanio diharapkan mampu mengurangi persentase komponen dari pabrik asalnya. Di Nurtanio kemudian diproduksi rangka pesawat terbang. Cita-citanya, seluruh komponen pesawat itu diproduksi di Bandung.

Pada tahap kedua perjalanan Nurtanio, Habibie memulai usaha membuat rancang bangun dan memproduksi pesawat sendiri. Pola lisensi ditinggalkan, meski Nurtanio tetap bermitra dengan pabrik pesawat terbang ternama. Pada tahap ini, Nurtanio pun menggandeng CASA. Kedua badan usaha itu lantas membuat perusahaan patungan bernama ”Airtech Industries” pada 1979.

Produk pertama yang dihasilkan perusahaan patungan itu ialah rancang bangun CN-235, pesawat penumpang berkapasitas 35 orang, bermesin turboprop ganda CT-7. Desain ini kemudian diproduksi kedua perusahaan itu di negaranya masing-masing. Di tengah-tengah tahap kedua ini pula, Nurtanio berubah nama menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).

Pada 1985, dua prototipe CN-235 diperkenalkan oleh CASA dan IPTN secara terpisah. CASA menamai prototipe itu ”Infanta Elena” dan memperkenalkannya di Spanyol, sedangkan IPTN mempersembahkan ”Tetuko”. Dua tahun kemudian, secara komersial CN-235 diterbangkan oleh maskapai penerbangan Merpati Nusantara Airlines. Maskapai ini mengoperasikan sebanyak 15 unit CN-235.

Habibie melangkah ke tahap berikutnya, yaitu membuat rancang bangun dan memproduksi sendiri pesawat terbang baru yang menggunakan teknologi terbaru. IPTN pun datang dengan konsep pesawat berkode N-230 pada 1989. Dua tahun kemudian, proyek ini diberi kode N-250. Pesawat ini menggunakan dua mesin turboprop GMA-2500 dan bisa menampung 50 penumpang. N-250 juga dilengkapi dengan teknologi ”fly by wire”.

Roll out prototipe N-250 dilakukan bertepatan dengan Hari Pahlawan tahun 1994. Prototipe ini diberi nama ”Gatotkaca”. Tepat seminggu sebelum perayaan hari ulang tahun ke-50 kemerdekaan RI, N-250 melakukan penerbangan perdana. Desain N-250 sendiri mengalami banyak perubahan. Terakhir, sebelum krisis moneter melanda Tanah Air, IPTN datang dengan varian N-250-100, pengembangan seri awal yang bisa menampung hingga 68 penumpang.

Bersamaan dengan penerbangan perdana N-250 itu, Presiden Soeharto meresmikan dimulainya proyek N-2130. Pesawat baru ini direncanakan menggunakan mesin jet ganda dan mampu mengangkut hingga 130 penumpang. Sayang, proyek ini baru sampai tahap desain awal.

Krisis ekonomi 1997-1998 akhirnya membuat tahap keempat gagal menjadi kenyataan. Proyek IPTN yang banyak memerlukan valuta asing, sementara pendapatannya lebih banyak berupa rupiah, menghadapi situasi yang rentang. Pada tahap ini, B.J. Habibie memproyeksikan adanya teknologi baru yang bisa diterapkan di IPTN di berbagai aspek kehidupan bangsa. Tak cuma pesawat terbang. IPTN didorong pula menjadi produsen barang-barang berteknologi tinggi.

Tapi krisis ekonomi yang terjadi terlalu berat. Krisis itu pula yang membuat Presiden Soeharto harus lengser. B.J. Habibie pun menggantikannya. Ironisnya, meski memiliki kewenangan politik yang besar, dalam situasi itu Habibie tak bisa menyelamatkan IPTN. Ia berkuasa ketika Indonesia telanjur jatuh dalam perangkap lembaga keuangan IMF. IPTN digolongkan sebagai salah satu ”megaproyek” yang harus ditinggalkan. Hingga masa jabatan Habibie selesai, IPTN tak berhasil keluar dari belitan kesulitan.

Di era Presiden Abdurrahman Wahid, nama IPTN diubah menjadi PT Dirgantara Indonesia (DI). Misi pun sedikit berubah menjadi perusahaan yang mengembangkan bisnis pesawat. Namun, karena kemelut politik yang terjadi terus-menerus, perhatian pemerintah berkurang atas PT DI.

Sulitnya mendapat kontrak-kontrak baru dengan perusahaan pembuat pesawat terbang lain memaksa PT DI membuat produk sampingan, macam panci, sendok, dan garpu, sekadar untuk mempertahankan diri. Begitupun, PT DI tetap bisa memenuhi kontrak dengan British Aerospace, yaitu membuat sayap pesawat Airbus A380, pada April 2003.

Puncak kemunduran PT DI terjadi pada 12 Juli 2003, ketika Edwin Soedarmo menjabat sebagai Direktur Utama PT DI. Ia mengeluarkan surat keputusan yang merumahkan sekitar 9.670 karyawannya. Walhasil, dari 16.000 karyawan yang sempat dimiliki PT DI, pada saat ini hanya tersisa 3.800 orang.

Namun PT DI berusaha bangkit. Seperti diakui Budi Santoso, Direktur Utama PT DI, kondisi perusahaan itu sekarang sedang stabil. PT DI tengah menyelesaikan kontrak 10 tahunnya dengan Boeing dan Airbus. Ada puluhan bagian pesawat buatan Boeing dan Airbus yang dibikin di PT DI. Misalnya sistem roda pendaratan untuk Airbus A-330, A-450, dan A-500.

PT DI juga sedang mengejar tenggat pengiriman CN-235 MPA yang dipesan TNI Angkatan Udara. ”Deadline-nya Agustus. Insya Allah selesai,” kata Budi Santoso. Ini pesawat yang nantinya dipakai untuk patroli maritim TNI-AU. PT DI juga sedang merangkai enam unit pesawat KT 1 buatan Korea Selatan yang dibeli TNI-AU.

Tahun lalu, PT DI mendapat kontrak dari konsorsium perusahaan Thailand, Malaysia, dan Singapura untuk membuat pesawat MNX, pesawat ringan berkapasitas enam penumpang. Namun, pada saat penyelesaian pesawat itu baru mencapai 40%, konsorsium tadi dilanda kesulitan keuangan. ”Kami menghentikan proses produksi dulu,” ujar Budi Santoso.

Selain kontrak-kontrak tadi, di hanggar PT DI sekarang ada tujuh pesawat N-212 dan tujuh helikopter Super Puma yang siap jual. ”Kami mencoba bertahan meski situasinya sulit,” kata Budi.

Carry Nadeak dan Sulhan Syafi’i

—————————————

Timeline *)

1 Agustus 1960
Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (Lapip) diresmikan.

29 Juli 1966
Lapip diubah menjadi Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (Lipnur).

28 April 1976
PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio berdiri dengan B.J. Habibie selaku direktur utama.

23 Agustus 1976
- Presiden Soeharto meresmikan IPTN.
- Program produk lisensi bekerja sama dengan CASA dan MBB dimulai. Nurtanio memproduksi NC-212 dan helikopter NBO-150.

1977
Kerja sama dengan Aerospatiale dan Bell Technologies Inc dijalin, Nurtanio memproduksi helikopter NSA-330 Puma, NSA-332 Super Puma, dan Nbell-412.

1979
”Airtech”, perusahaan patungan antara Nurtanio dan CASA, dibentuk.

1983
Desain CN-235 dihasilkan. Pesawat terbang ini didesain mengusung dua mesin turboprop CT-7 dan mampu menampung 35 penumpang.

11 Oktober 1983
Nurtanio berubah menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).

1985
Penerbangan perdana CN-235 ”Tetuko” di Indonesia dan ”Infanta Elena” di Spanyol.

1987
CN-235 dipakai secara komersial oleh PT Merpati Nusantara Airlines, yang membeli 15 unit.

1989
Proyek N-230 disiapkan.

1992
N-230 menjadi N-250. Pesawat baru ini menggunakan dua mesin turboprop GMA-2500 dan mampu mengangkut 50 penumpang.

10 November 1994
Roll out prototipe N-250 ”Gatotkaca”. Pada hari yang sama, diresmikan proyek N-2130, pesawat bermesin jet ganda dengan kemampuan angkut 130 penumpang.

1997
Produksi pesawat N-250 dihentikan dan belum pernah mendapatkan sertifikasi laik terbang.

29 Oktober 1997
Demonstrasi karyawan pertama dalam sejarah IPTN.

24 Agustus 2001
IPTN mengubah nama menjadi PT Dirgantara Indonesia (DI) atau Indonesian Aerospace (IAe), yang diresmikan Presiden Abdurrahman Wahid.

28 April 2003
PT DI menyerahkan sayap pesawat Airbus 380 kepada British Aerospace.

12 Juli 2003
Sebanyak 9.670 karyawan PT DI dirumahkan.

*) Disarikan dari berbagai sumber

PT.DI, Dari Gelatik ke Gatotkaca

 


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.